Dahulu kala belajar tauhid, pernah bimbang, menimpa curhat mengadu cuma kepada allah, artinya gimana ya?
curhat dan juga mengadu iya, tetapi ini terdapat permasalahan ataupun beban, dan juga kita belum tentu mampu semacam “ilham” dari allah buat menyelesaikannya dan juga kurangi beban
nyatanya sehabis belajar tauhid lebih dalam, artinya amat luar biasa dan juga tercantunm hikmah, amat berarti dalam menempuh hidup kita
jadi begini, terus menjadi baik tauhid seorang, terus menjadi besar ketergantungan dan juga keterikatannya kepada allah, senantiasa ingat allah whatever kondisinya, terlebih lagi dalam hadits hingga tali sandalnya yang putus (perihal sepele artinya) , dia lekas meminta kepada allah supaya mengambil alih yang lebih baik
menimpa tauhid, teori benar gampang tetapi melakukannya susah, karenanya tauhid jadi pelajaran yang diuang - ulang seumur hidup
kala terdapat permasalahan, bencana dan juga beban berat, hingga orang yang bertauhid, yang amat kesatu dia jalani merupakan lekas ingat allah, berdoa kepada allah, istigfar supaya dimudahkan dan juga diberi kesabaran
ataupun bila masih berat dia hendak lekas melaksanakan amal kebaikan, shalat, sedekah berbuat baik dan juga manfaf kepada manusia, supaya mencapai ridho allah dan juga memilah waktu mustajab semisal sepertiga malam buat mengadu dan juga mengeluhkan perkaranya kepada allah
inilah contoh perbuatan orang shalih saat sebelum kita. nabi ya’qub ‘alaihis salam mengatakan,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“sesungguhnya cumalah kepada allah saya mengadukan kesulitan dan juga kesedihanku. ” (qs. yusuf : 86).
dapat aja sehabis itu, kita dikasih kemudahan, kelapangan dan juga jalur keluar oleh allah, kita terbuat mengingat berulang supaya bersabar dan juga besarnya pahala bersabar
nah, sehabis mengadu kepada allah, barulah dia musyawarahkan urusannya/perkaranya dengan manusia. dimusyawarahkan karna ini merupakan perintah allah. allah berfirman,
وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ
“maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. ” (qs. ali imran: 159)
tetapi tidak seluruh manusia diajak musyawarah, cuma 1 - 2 orang ataupun sebagian orang aja (tidak butuh banyak orang ketahui perkaranya) yang hampir dapat menolong membagikan pemecahan dan juga nasehat atas permasalahan dan juga bebannya. semisal ustadz, ortu, teman, pakar psikologi dll
itupun kala musyawarah, dia tampakkan kepada manusia muka yang tegar, ia cuma perlu masukan dan juga pemecahan bukan belas kasih mereka, karna cuma allah yang ia harapkan kasih sayang - nya
terlebih lagi salah satu trik supaya senantiasa tergantung kepada allah dan juga berupaya menyembunyikan permasalahan di hadapan manusia, kala musyawarah dia menggambarkan permasalahannya dengan cerita “orang ketiga”
semisal: “bagaimana komentar dan juga pemecahan, terdapat orang dengan permasalahan dan juga permasalahan begini begitu.. ” sementara itu orang itu merupakan ia yang bertanya
nah, sehabis mampu pemecahan hasil musyawarah, ia hendak jalani pemecahan itu dengan meminta pertolongan allah
whatever hasilnya seperti itu takdir tersadu menurutnya, yang berarti sudah berupaya, allah amat sayang terhadap hamba - nya melebihi kasih sayang bunda kepada balita dalam buaian sehabis terpisah lama (isi hadits)
perilaku yang menampilkan tauhid yang kurang merupakan kala terdapat permasalahan dan juga beban, hingga dia kurang ingat allah, dan juga lekas mencari manusia buat curhat, berkeluh - kesah, terlebih lagi caci - maki tidak terima dengan takdir allah,
sementara itu manusia itu pula tidak dapat membagikan pemecahan ataupun dorongan apapun
lebih parah lagi (maaf) dia berkeluh kesah kepada seluruh orang, meringik di sosmed, supaya seluruh manusia ketahui perkaranya, ini bukan perilaku orang yng bertauhid
curhat dan juga meringik kepada manusia dulu, berarti: kamu mengadukan perbuatan allah kepada manusia”
yang namanya manusia, kamu meringik kepadanya, hingga belum tentu ia bahagia, terlebih lagi kadangkala bosan mendengar keluhan teman , dapat jadi ia bermuka manis dan juga mencermati curhat kamu, namun dapat jadi ia “berbicara lain” di hatinya ataupun malah menyebarkan aib kamu dengan bergosip, ya seperti itu manusia, siapa yang tahu
namun allah rabb kita, terus menjadi kita meringik, merengek dan juga meminta kepadanya, kian baik. berubah dengan manusia yang sebaliknya
nah, ini ia amat berarti pelajaran tauhid dalam hidup kita. ayo kita belajar tauhid lagi, ajarkan keluarga dan juga dakwahnya, tentu tidak kurang ingat amalkan dan juga berdoa
mudah - mudahan kita senantiasa dapat mengamalkan ilmu kita. mudah - mudahan bermanfaat
@kereta api jogja - jakarta
oleh: raehanul bahraen
( sumber: muslimafiyah. com )
curhat dan juga mengadu iya, tetapi ini terdapat permasalahan ataupun beban, dan juga kita belum tentu mampu semacam “ilham” dari allah buat menyelesaikannya dan juga kurangi beban
nyatanya sehabis belajar tauhid lebih dalam, artinya amat luar biasa dan juga tercantunm hikmah, amat berarti dalam menempuh hidup kita
jadi begini, terus menjadi baik tauhid seorang, terus menjadi besar ketergantungan dan juga keterikatannya kepada allah, senantiasa ingat allah whatever kondisinya, terlebih lagi dalam hadits hingga tali sandalnya yang putus (perihal sepele artinya) , dia lekas meminta kepada allah supaya mengambil alih yang lebih baik
menimpa tauhid, teori benar gampang tetapi melakukannya susah, karenanya tauhid jadi pelajaran yang diuang - ulang seumur hidup
kala terdapat permasalahan, bencana dan juga beban berat, hingga orang yang bertauhid, yang amat kesatu dia jalani merupakan lekas ingat allah, berdoa kepada allah, istigfar supaya dimudahkan dan juga diberi kesabaran
ataupun bila masih berat dia hendak lekas melaksanakan amal kebaikan, shalat, sedekah berbuat baik dan juga manfaf kepada manusia, supaya mencapai ridho allah dan juga memilah waktu mustajab semisal sepertiga malam buat mengadu dan juga mengeluhkan perkaranya kepada allah
inilah contoh perbuatan orang shalih saat sebelum kita. nabi ya’qub ‘alaihis salam mengatakan,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“sesungguhnya cumalah kepada allah saya mengadukan kesulitan dan juga kesedihanku. ” (qs. yusuf : 86).
dapat aja sehabis itu, kita dikasih kemudahan, kelapangan dan juga jalur keluar oleh allah, kita terbuat mengingat berulang supaya bersabar dan juga besarnya pahala bersabar
nah, sehabis mengadu kepada allah, barulah dia musyawarahkan urusannya/perkaranya dengan manusia. dimusyawarahkan karna ini merupakan perintah allah. allah berfirman,
وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ
“maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. ” (qs. ali imran: 159)
tetapi tidak seluruh manusia diajak musyawarah, cuma 1 - 2 orang ataupun sebagian orang aja (tidak butuh banyak orang ketahui perkaranya) yang hampir dapat menolong membagikan pemecahan dan juga nasehat atas permasalahan dan juga bebannya. semisal ustadz, ortu, teman, pakar psikologi dll
itupun kala musyawarah, dia tampakkan kepada manusia muka yang tegar, ia cuma perlu masukan dan juga pemecahan bukan belas kasih mereka, karna cuma allah yang ia harapkan kasih sayang - nya
terlebih lagi salah satu trik supaya senantiasa tergantung kepada allah dan juga berupaya menyembunyikan permasalahan di hadapan manusia, kala musyawarah dia menggambarkan permasalahannya dengan cerita “orang ketiga”
semisal: “bagaimana komentar dan juga pemecahan, terdapat orang dengan permasalahan dan juga permasalahan begini begitu.. ” sementara itu orang itu merupakan ia yang bertanya
nah, sehabis mampu pemecahan hasil musyawarah, ia hendak jalani pemecahan itu dengan meminta pertolongan allah
whatever hasilnya seperti itu takdir tersadu menurutnya, yang berarti sudah berupaya, allah amat sayang terhadap hamba - nya melebihi kasih sayang bunda kepada balita dalam buaian sehabis terpisah lama (isi hadits)
perilaku yang menampilkan tauhid yang kurang merupakan kala terdapat permasalahan dan juga beban, hingga dia kurang ingat allah, dan juga lekas mencari manusia buat curhat, berkeluh - kesah, terlebih lagi caci - maki tidak terima dengan takdir allah,
sementara itu manusia itu pula tidak dapat membagikan pemecahan ataupun dorongan apapun
lebih parah lagi (maaf) dia berkeluh kesah kepada seluruh orang, meringik di sosmed, supaya seluruh manusia ketahui perkaranya, ini bukan perilaku orang yng bertauhid
curhat dan juga meringik kepada manusia dulu, berarti: kamu mengadukan perbuatan allah kepada manusia”
yang namanya manusia, kamu meringik kepadanya, hingga belum tentu ia bahagia, terlebih lagi kadangkala bosan mendengar keluhan teman , dapat jadi ia bermuka manis dan juga mencermati curhat kamu, namun dapat jadi ia “berbicara lain” di hatinya ataupun malah menyebarkan aib kamu dengan bergosip, ya seperti itu manusia, siapa yang tahu
namun allah rabb kita, terus menjadi kita meringik, merengek dan juga meminta kepadanya, kian baik. berubah dengan manusia yang sebaliknya
nah, ini ia amat berarti pelajaran tauhid dalam hidup kita. ayo kita belajar tauhid lagi, ajarkan keluarga dan juga dakwahnya, tentu tidak kurang ingat amalkan dan juga berdoa
mudah - mudahan kita senantiasa dapat mengamalkan ilmu kita. mudah - mudahan bermanfaat
@kereta api jogja - jakarta
oleh: raehanul bahraen
( sumber: muslimafiyah. com )


