Persoalan:
assalamualaikum ustadz
langsung aja, aku ingin bertanya apa hukumnya makan dan juga tidur bila kita dalam kondisi junub. mohon penjelasannya, terima kasih. (by: aa garut)
jawaban:
waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
kami terangkan kalau buat kegiatan yang diharamkan untuk seseorang muslim yang lagi dalam kondisi junub merupakan sebagian perihal berikut ini,
perihal terlarang buat orang dalam kondisi junub
sholat
tawaf
memegang/memegang mushaf
.
لا يمسه إلا المطهرون
.
“dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci. ” (qs. al - qari’ah : 79)
.
jumhur ulama setuju kalau orang yang berhadats besar tercantum pula orang yang haidh dilarang memegang mushaf al - quran
.
melafazkan ayat - ayat al - quran kecuali dalam hati ataupun doa/dzikir yang lafadznya diambil dari ayat al - quran secara tidak langsung. rasulullah saw tidak terhalang dari membaca al - qur’an kecuali dalam kondisi junub.
.
tetapi terdapat pula komentar yang membolehkan perempuan haidh membaca al - qur’an dengan catatan tidak memegang mushaf dan juga cemas kurang ingat hendak hafalannya apabila masa haidhnya sangat lama. pula dalam membacanya tidak sangat banyak. komentar ini merupakan komentar malik. demikian disebutkan dalam bidayatul mujtahid jilid 1 perihal 133.
.
berihram
.
masuk ke masjid
dari aisyah ra. mengatakan kalau rasulullah saw bersabda, “tidak ku halalkan masjid untuk orang yang junub dan juga haidh. ” (hr bukhari, abu daud dan juga ibnu khuzaemah)
.
tidak hanya sebagian perihal yang telah dipaparkan diatas diperbolehkan, tidak terdapat yang salah misal apabila seseorang dalam kondisi junub buat membereskan rumah ataupun kegiatan lain.
hukum makan ataupun tidur dalam keadaan junub
tetapi disini terdapat petunjuk dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam kala kita dalam keadaan junub mau menyantap santapan ataupun tidur. sebagaimana dipaparkan dalam sebagian hadits berikut,
ummul mukminin aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ
“apabila nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bakal tidur dalam keadaan junub, dia membilas kemaluannya setelah itu berwudhu sebagaimana wudhu buat shalat” (hr. bukhari)
أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ يَدَيْهِ
“apabila nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bakal makan dalam keadaan junub, dia cuci tangannya” (hr. ibnu majah; shahih)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ
dari ibnu ‘umar, dia mengatakan kalau ‘umar bin angkatan laut (AL) khottob sempat bertanya pada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “apakah salah seseorang di antara kami boleh tidur sedangan dia dalam kondisi junub? ” dia menanggapi, “iya, bila salah seseorang di antara kamu junub, hendaklah dia berwudhu kemudian tidur. ” (hr. bukhari)
imam malik meriwayatkan kerutinan abdullah bin umar radhiyallahu ‘anhu, teman yang tetap menjajaki sunnah rasulullah:
كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَطْعَمَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ طَعِمَ أَوْ نَامَ
apabila bakal tidur ataupun makan sebaliknya dia dalam keadaan junub, dia membilas muka dan juga tangannya sampai ke siku, mengusap penggalan kepala setelah itu makan ataupun tidur. (hr. malik dalam angkatan laut (AL) muwatha’)
bersumber pada sebagian nash diatas, jumhur ulama berkomentar kalau disunnahkan untuk seorang dalam kondisi junub buat membilas muka dan juga tangannya sampai ke siku, mengusap penggalan kepala kala bakal makan dan juga minum
lagi untuk orang dalam keadaan junub yang mau tidur sebaiknya berwudhu terlebih dulu. tetapi bila memilah buat mandi, itu lebih sempurna. bila tidak berwudhu, hingga berarti meninggalkan yang lebih utama.
spesial buat tidur, dimakruhkan buat tidur dalam kondisi junub bersumber pada dalil ini. karna orang yang tidur terlepas ruhnya sedangkan waktu. kala itu, ruh tersebut sujud di hadapan allah. sebaliknya bila seorang dalam kondisi junub, tidak dapat serupa itu.
jadinya, bila seorang tidur dalam kondisi junub lalu junubnya tersebut tidak pula diperingan dengan wudhu, hingga iktikad ruh buat sujud di mari bukanlah tercapai.
begitu pula terdapat maslahat bila seorang mandi terlebih dulu buat menyirnakan junub saat sebelum tidur. terdapat maslahat badaniyah di situ, ialah tubuh meningkat antusias dan juga dia juga kala bangun tidur meningkat bugat.
bila tidak mandi, hingga minimun berwudhu. bila tidak berwudhu, hingga tubuh hendak gampang malas dan juga lemas. kala bangun tidur juga demikian, terlebih lagi lebih meningkat malas.
hadits yang dijabarkan di atas intinya menarangkan tidak kenapa seorang tidur dalam kondisi junub, tetapi dianjurkan berwudhu terlebih dulu. amati syarh ‘umdatil ahkam, perihal. 87.
wallahu a’lam bish shawab.
( sumber: kabarmakkah. com )
assalamualaikum ustadz
langsung aja, aku ingin bertanya apa hukumnya makan dan juga tidur bila kita dalam kondisi junub. mohon penjelasannya, terima kasih. (by: aa garut)
jawaban:
waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
kami terangkan kalau buat kegiatan yang diharamkan untuk seseorang muslim yang lagi dalam kondisi junub merupakan sebagian perihal berikut ini,
perihal terlarang buat orang dalam kondisi junub
sholat
tawaf
memegang/memegang mushaf
.
لا يمسه إلا المطهرون
.
“dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci. ” (qs. al - qari’ah : 79)
.
jumhur ulama setuju kalau orang yang berhadats besar tercantum pula orang yang haidh dilarang memegang mushaf al - quran
.
melafazkan ayat - ayat al - quran kecuali dalam hati ataupun doa/dzikir yang lafadznya diambil dari ayat al - quran secara tidak langsung. rasulullah saw tidak terhalang dari membaca al - qur’an kecuali dalam kondisi junub.
.
tetapi terdapat pula komentar yang membolehkan perempuan haidh membaca al - qur’an dengan catatan tidak memegang mushaf dan juga cemas kurang ingat hendak hafalannya apabila masa haidhnya sangat lama. pula dalam membacanya tidak sangat banyak. komentar ini merupakan komentar malik. demikian disebutkan dalam bidayatul mujtahid jilid 1 perihal 133.
.
berihram
.
masuk ke masjid
dari aisyah ra. mengatakan kalau rasulullah saw bersabda, “tidak ku halalkan masjid untuk orang yang junub dan juga haidh. ” (hr bukhari, abu daud dan juga ibnu khuzaemah)
.
tidak hanya sebagian perihal yang telah dipaparkan diatas diperbolehkan, tidak terdapat yang salah misal apabila seseorang dalam kondisi junub buat membereskan rumah ataupun kegiatan lain.
hukum makan ataupun tidur dalam keadaan junub
tetapi disini terdapat petunjuk dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam kala kita dalam keadaan junub mau menyantap santapan ataupun tidur. sebagaimana dipaparkan dalam sebagian hadits berikut,
ummul mukminin aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ
“apabila nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bakal tidur dalam keadaan junub, dia membilas kemaluannya setelah itu berwudhu sebagaimana wudhu buat shalat” (hr. bukhari)
أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ يَدَيْهِ
“apabila nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bakal makan dalam keadaan junub, dia cuci tangannya” (hr. ibnu majah; shahih)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ
dari ibnu ‘umar, dia mengatakan kalau ‘umar bin angkatan laut (AL) khottob sempat bertanya pada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “apakah salah seseorang di antara kami boleh tidur sedangan dia dalam kondisi junub? ” dia menanggapi, “iya, bila salah seseorang di antara kamu junub, hendaklah dia berwudhu kemudian tidur. ” (hr. bukhari)
imam malik meriwayatkan kerutinan abdullah bin umar radhiyallahu ‘anhu, teman yang tetap menjajaki sunnah rasulullah:
كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَطْعَمَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ طَعِمَ أَوْ نَامَ
apabila bakal tidur ataupun makan sebaliknya dia dalam keadaan junub, dia membilas muka dan juga tangannya sampai ke siku, mengusap penggalan kepala setelah itu makan ataupun tidur. (hr. malik dalam angkatan laut (AL) muwatha’)
bersumber pada sebagian nash diatas, jumhur ulama berkomentar kalau disunnahkan untuk seorang dalam kondisi junub buat membilas muka dan juga tangannya sampai ke siku, mengusap penggalan kepala kala bakal makan dan juga minum
lagi untuk orang dalam keadaan junub yang mau tidur sebaiknya berwudhu terlebih dulu. tetapi bila memilah buat mandi, itu lebih sempurna. bila tidak berwudhu, hingga berarti meninggalkan yang lebih utama.
spesial buat tidur, dimakruhkan buat tidur dalam kondisi junub bersumber pada dalil ini. karna orang yang tidur terlepas ruhnya sedangkan waktu. kala itu, ruh tersebut sujud di hadapan allah. sebaliknya bila seorang dalam kondisi junub, tidak dapat serupa itu.
jadinya, bila seorang tidur dalam kondisi junub lalu junubnya tersebut tidak pula diperingan dengan wudhu, hingga iktikad ruh buat sujud di mari bukanlah tercapai.
begitu pula terdapat maslahat bila seorang mandi terlebih dulu buat menyirnakan junub saat sebelum tidur. terdapat maslahat badaniyah di situ, ialah tubuh meningkat antusias dan juga dia juga kala bangun tidur meningkat bugat.
bila tidak mandi, hingga minimun berwudhu. bila tidak berwudhu, hingga tubuh hendak gampang malas dan juga lemas. kala bangun tidur juga demikian, terlebih lagi lebih meningkat malas.
hadits yang dijabarkan di atas intinya menarangkan tidak kenapa seorang tidur dalam kondisi junub, tetapi dianjurkan berwudhu terlebih dulu. amati syarh ‘umdatil ahkam, perihal. 87.
wallahu a’lam bish shawab.
( sumber: kabarmakkah. com )


