-->

Kunci Sukses Menjawab 6 Pertanyaan di Alam Kubur

Rasulullah saw bersabda kalau kala seorang telah dibaringkan di dalam kubur dan juga para pengantar telah meninggalkannya, hingga 2 malaikat, ialah munkar dan juga nakir, lekas menghadiri dan juga menanyakan tentang 3 perihal pokok, ialah: siapa tuhannya, apa agamanya dan juga siapa nabinya. hadits tersebut sebagaimana diriwayatkan dari al - barra’ bin azib:
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ شَدِيدَا الاِنْتِهَارِ فَيَنْتهِرَانِهِ وَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ مَا دِينُكَ؟ مَنْ نَبِيُّكَ؟

فيأتيه ملكان شديدا الانتهار فينتهرانه، ويجلسانه، فيقولان له: من ربك؟ ما دينك؟ من نبيك؟

dalam sebagian riwayat dikatakan ketiga persoalan pokok tersebut diiringi dengan 3 persoalan selanjutnya sampai - sampai berjumlah 6 persoalan bagaikan berikut:

man rabbuka? siapa tuhanmu?
ma dinuka? apa agamamu?
man nabiyyuka? siapa nabimu?
ma kitabuka? apa kitabmu?
aina qiblatuka? di mana kiblatmu?
man ikhwanuka? siapa saudaramu?

keenam persoalan di atas nampak sepele buat dijawab. tetapi, sesungguhnya tidak demikian karena seluruh tergantung pada amal tiap - tiap semasa hidupnya.

kala seorang sudah dibaringkan di dalam kubur, dia sendirian tanpa seseorang juga menemani; sedangkan malaikat menyapa dengan garang sembari menarik orang itu supaya berposisi duduk.

kedua malaikat setelah itu mengajukan keenam persoalan sebagaimana di atas. mereka yang tetap melakukan shalat 5 waktu, terlebih yang suka shalat berjamaah di masjid, sebetulnya mereka telah memegang kunci sukses menanggapi keenam persoalan itu.

bahwa kita camkan definsi shalat, ialah serangkaian aktivitas ibadah tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan juga diakhiri dengan salam, hingga kita dapati kata kesatu yang harus kita ucapkan dalam shalat merupakan الله, ialah dalam takbiratul ihram: الله اكبر.

bila dalam satu hari tadi malam kita melaksanakan shalat fardhu 5 waktu, hingga kita hendak menyebut الله dalam takbiratul ihram sebanyak 5 kali. bila takibiratul ihram ditambah dengan takbir - takbir yang lain serupa takbir saat sebelum ruku’, saat sebelum sujud, dan juga sebagainya, hingga dalam satu hari tadi malam kita menyebut الله sebanyak 68 kali.

itu belum tercantum yang kita sebut dalam shalat - shalat sunnah. singkatnya orang yang taat melangsungkan perintah shalat hendak amat terbiasa mengucapkan الله.

kaitannya dengan persoalan kesatu di atas, seorang yang semasa hidupnya tetap melakukan kewajiban shalat, setelah itu di dalam kubur ditanya: من ربك (siapa tuhanmu) hingga dengan gampang dia mampu menanggapi: الله ربي (allah tuhanku) karna dia terbiasa menyebut الله paling tidak 68 kali dalam satu hari tadi malam.

bayangkan mereka yang malas shalat, terlebih tidak sempat shalat sama sekali. tentu mereka hendak hadapi kesusahan menanggapi persoalan ini.

terhadap persoalan kedua, ialah ما دينك (apa agamamu) seorang yang semasa hidupnya tetap melakukan kewajiban shalat, kala di dalam kuburnya ditanya: ما دينك – apa agamamu – hingga dengan gampang dia mampu menanggapi: الاسلام ديني (islam agamaku) karna dalam konteks saat ini cuma islam salah satunya agama yang memerintahkan melakukan shalat.

agama - agama sebelumnya pada zamannya pula memerintahkan umatnya melakukan shalat terlebih lagi dengan jumlah rakaat yang lebih banyak dari pada islam. agama - agama itu sampai saat ini masih terdapat, tetapi inti ajarannya tidak lagi menekankan iman tauhid dengan cuma menyembah allah swt sebagaimana islam.

hingga dapat dipahami agama - agama itu tidak lagi menyerukan umatnya melaksanakan shalat. shalat telah identik dengan islam karna sekali lagi dalam konteks saat ini islam salah satunya agama yang memerintahkan shalat.

terhadap persoalan ketiga, ialah من نبيك (siapa nabimu) seorang yang tetap melakukan kewajiban shalat, tentu dengan bisa dengan mudah mampu menanggapi persoalan itu karna di dalam shalat 5 waktu paling tidak kita menyebut nama محمد sebanyak 10 kali dalam satu hari tadi malam, ialah dalam teks tahiyat ataupun tasyahud akhir yang berbunyi:
أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمدا رسول الله

dan juga dalam teks shalawat
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

jumlah itu belum tercantum yang dibaca dalam tasyahud dini dan juga teks shalawat dalam rakaat kedua dalam shalat dhuhur, ashar, maghrib dan juga isya’ yang jumlahnya 15 sampai - sampai seluruhnya berjumlah 25.

oleh karna itu, seorang yang semasa hidupnya tetap melaksnakan shalat hendak dengan gampang menanggapi persoalan: من نبيك (siapa nabimu) , ialah dengan jawaban: محمد نبي (nabiku muhammad saw) karna tiap hari senantiasa menyebut nama محمد.

terhadap persoalan keempat, ialah ما كتابك – apa kitabmu, seorang yang tetap melakukan kewajiban shalat, tentu mampu menanggapi persoalan itu dengan jawaban: القران كتابي – kitabku al - qur’an, karna di dalam shalat ada rukun yang mewajibkan orang shalat membaca surah kesatu dalam al - qur’an ialah surah al - fatihah.

seorang yang melaksanakan shalat tanpa membaca surah ini dalam tiap rakaat, shalatnya tidak legal, kecuali untuk makmum masbuq yang di rakaat kesatu tidak tuntas membacanya karna waktu tidak memadai.

tidak hanya surah al - fatihah, orang shalat pula membaca surah - surah yang lain di dalam al - qur’an yang dibaca bagaikan teks sunnah. surah - surah yang hukumnya sunnah ini dibaca sehabis surah al - fatihah.

dengan dibacanya surah - surah dalam al - qur’an dalam shalat, hingga dalam satu hari tadi malam paling tidak orang membaca surah - surah al - qur’an sebanyak 27 kali. dengan kata lain buat menyebut القران bagaikan bagaikan kitab suci tidak susah untuk mereka yang tetap melakukan shalat.

terhadap persoalan kelima, ialah اين قبلتك (di mana kiblatmu) seorang yang tetap melakukan kewajiban shalat, tentu mampu menanggapi persoalan itu dengan jawaban: الكعبة قبلتي (ka’bah kiblatku) karna orang yang tetap melakukan kewajiban shalat, hendak menghadap ke arah ka’bah sebanyak 5 kali satu hari. bila ditambah dengan shalat - shalat sunnah, tentu frekuensinya lebih besar lagi.

kebiasan tiap hari menghadap kiblat berbentuk ka’bah ini tentu hendak mempermudah menanggapi persoalan kelima di atas. terlebih di dalam hasrat shalat ada kata “kiblat” yang artinya merupakan ka’bah. hasrat itu semisal:
أصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

“aku bernazar melakukan shalat dzuhur 4 rakaat dengan menghadap kiblat karna allah swt.

dalam teks hasrat di atas secara eksplisit ada kata اْلقِبْلَةِ. perkata kiblat ini tentu hendak senantiasa menegaskan ka’bah di tanah suci makkah al - mukarramah.

orang islam yang taat kepada allah tetap hendak menghadap ke arah ka’bah sedikitnya 5 kali dalam satu hari. maksudnya untuk orang yang tetap melaksanakn shalat buat menyebut nama ka’bah tidak susah.

terhadap persoalan keenam, ialah من إخوانك (siapa saudara - saudaramu) , seorang yang tetap melakukan kewajiban shalat dengan berjamaah di masjid, tentu mampu menanggapi persoalan itu dengan jawaban yang pas, ialah المسلمون والمسلمات إخواني (kalangan muslimin dan juga muslimat saudara - saudaraku).

jawaban dari persoalan keenam ini benar mempunyai keterkaitan langsung dengan masjid karna tempat suci ini menggambarkan tempat berkumpulnya kalangan muslimin dan juga muslimat buat melakukan jamaah shalat.

seorang yang menyesuikan diri dengan shalat berjamaah di masjid, tentu hendak ingat saudara - saudara seiman yang berjamaah shalat bersamanya meski bisa jadi tidak ketahui nama mereka satu per satu. tidak bisa jadi ataupun amat kecil kemungkinannya orang - orang non - muslim melaksanakan shalat, terlebih di masjid.

dari penjelasan di atas mampu kita amati dengan jelas terdapat ikatan erat antara shalat, masjid dan juga kelancaran menanggapi 6 persoalan di dalam kubur yang meliputi: siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu, apa kitabmu, dimana kiblatmu, dan juga siapa saudara - saudaramu.

orang - orang yang tetap melakukan kewajiban shalat, terlebih dengan berjamaah di masjid, sudah tentu tidak hendak hadapi kesusahan menanggapi seluruh persoalan tersebut.

kesuksesan menanggapi seluruh persoalan itu jadi penentu kesuksesan - kesuksesan selanjutnya apakah seorang hendak masuk ke surga ataupun ke neraka. mudah - mudahan kita seluruh tercantum orang - orang yang senatiasa sukses dalam mengalami seluruh persoalan di alam kubur. amin ya rabbal alamin.

oleh: muhammad ishom
dosen fakultas agama islam universitas nahlatul ulama (unu) surakarta






( sumber: nu. or. id )
Back To Top